Blog yang berisikan Motivasi Hidup

Tampilkan postingan dengan label kata bijak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kata bijak. Tampilkan semua postingan
Jumat, 02 Agustus 2013

Tumpukan Sampahku Menjadi Rejekiku.


Perlu waktu lama untuk bisa mewujudkan keinginanku tinggal di suatu daerah yang tenang, sejuk dan bersih udaranya. Maka aku memilih tinggal di daerah Bogor. Apalagi aku sangat suka dengan tanaman maka tersalurlah hobyku karena rumahku yang mungil ini masih memiliki halaman yang cukup luas. Tapi tidaklah mudah mengubah kebiasaan hidup di tengah kota ke kehidupan di daerah seperti ini, sehingga kadang memunculkan masalah dalam diriku sendri. Salah satunya adalah masalah membuang sampah.
Saat tinggal di Jakarta membuang sampah tinggal dimasukkan ke bak sampah dan tukang sampah akan mengambilnya sampai bersih. Apapun tinggal dilempar ke bak itu, pakaian bekas, perabotan yang sudah tak terpakai, kertas, mainan, dll.  Beres semua tak perlu repot. Sekarang masalah itu muncul dan sangat memusingkan karena tidak ada lagi tukang sampah di tempat ini, sedangkan kebiasaanku selain banyak sampah dari dapur juga membuang dan mengganti barang-barang yang sudah tidak begitu bagus. Kemana harus membuangnya?.
Akhirnya aku menemukan jawabannya ketika melihat seorang bapak yang setiap hari membawa karung lewat di depanku. Ternyata dia mencari dan mengumpulkan plastik-plastik yang hanyut di sungai tak jauh dari rumahku. Kemudian aku memisahkan sampah plastik, barang-barang bekas dan kertas-kertas dari sampah dapur dan aku letakkan di dekat pagar rumah supaya bisa diambil bapak itu. Aku lega dan bapak itu senang dapat banyak barang bekas yang bisa dia jual lagi.
Mungkin karena senang sering mendapat barang-barang yang bisa dia jual, maka dia kadang memberiku daun singkong, daun pepaya, atau hasil kebun lainnya. Karena aku melihat begitu banyak tanaman yang tidak begitu dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar maka kucoba mengolahnya menjadi makanan yang lebih terasa enak. Aku buat kripik dari daun singkong, daun pepaya, daun mengkudu juga daun sambungnyawa, bahkan juga aku coba membuat nuget dari daun-daun tersebut. Pertama aku makan sendiri kemudian kubagikan ke tetangga dan setelah itu kutawarkan ke teman-temanku yang tinggal di Jakarta yang tentunya suka dengan makanan sehat. Ternyata banyak yang suka.
Aku ingin mengajak masyarakat di sekitarku untuk memanfaatkan apapun yang ada di sekitarnya untuk menambah penghasilan keluarga. Karena seringkali kita tidak bisa melihat peluang dan cenderung menganggap remeh dengan apa yang kita miliki sehingga kesempatan itu diambil oleh orang lain.
Dan sesungguhnya dengan melakukan suatu langkah yang sederhana bahkan seperti tak ada arti dan nilainya  bisa memberi manfaat dan membuka jalan bagi yang sedang dalam kesulitan.

zeinsee kata bijak
Minggu, 28 Juli 2013

Diriku Yang Tersingkirkan Tak Di Anggap.


Derasnya hujan yang turun
Angin yang berhembus kencang
Awan yang turut mendung
Mewakili yang kini ku alami
Tak pernah ku sangka sakit ini karena dirimu
Sahabat itulah panggilanku untukmu
Sayang itu rasa yang kuberi padamu
Baik pembelaan untukku atas sikapmu
Tapi jahat yang kau lontarkan padaku di hadapan mereka
Sakit rasanya jika harus mendengarnya lagi
Tapi aku sahabatmu yang anggap itu hanya candaan
Ternyata semua bukan lelucon semua benar
Apa yang di katakan lebih menyakitkan karena kau ucapkan di belakangku
Apa salahku ?
Aku memang bukan manusia sempurna
Aku memang bukan sabahat yang baik
Tapi haruskah aku yang kau ceritakan pada mereka ?
Sikap burukku sikap tak ramahku Dan rasa bencimu yang telah lama kau pendam untukku ?
Kini sahabat hanyalah ucapan tak bermakna
Aku benci semua yang telah kau ucapkan padaku
Aku benci atas sikapmu
Aku benci karena aku tidak bisa  mengganggapmu musuh
Dan aku benci ketika aku masih saja memanggilmu sahabat
walau hati ini telah tergores luka yang dalam
olehmu.. sahabat
zeinsee kata bijak
Selasa, 23 Juli 2013

Deritaku,Menjalani Puasa Tanpa Keluarga.


Sejumlah pengungsi Rohingya yang berada di Medan, Sumatra Utara, prihatin denga pembantaian yang terjadi di Myanmar. Sebagian pengungsi yang telah berada dua bulan hingga satu tahun di Kota Medan itu berharap Pemerintah Indonesia bisa membantu mereka.
Setiap memandang foto-foto pembantaian yang beredar, rasa pilu pilu menyergap para pengungsi Rohingya yang saat ini berada di Penginapan Pelangi, Medan, Sumatra Utara.
Muhamad Nuh, salah satunya. Meski tak sanggup melihat foto-foto penuh penderitaan itu, namun hanya itulah kenangan yang tersisa bagi Nuh.
Masih terkenang detik-detik ia menyelamatkan diri dari kampungnya di Desa Maungdaw, Myanmar, meninggalkan ibu, ayah, serta adik-adiknya. Meninggalkan orang-orang yang dicintainya hingga akhirnya bersama 59 rekannya, ia terdampar di Medan atas bantuan International Organisation Migration.
Kini, di saat Bulan Ramadan, kehilangan itu makin terasa dalam. Beribadah tanpa keluarga tercinta semakin terasa menyiksa. Matanya berkaca-kaca jika menceritakan deritanya.
"Kalau puasa kita menangis karena tidak ada ibu-bapak di sini. Kalau beribadah dan salat sering menangis," elu Nuh dengan nada terba-bata., Kamis (2/8).
Hingga kini, kondisi Etnis Rohingya di Myanmar belum membaik. Pembantaian dan pembakaran masih terus terjadi. Human Right Watch, LSM yang berbasis di New York, Amerika Serikat menemukan kekerasan di negara bagian Rakhine, Myanmar, termasuk aksi pemerkosaan dan penyekapan terhadap Etnis Rohingya.
Mereka menyebut pemerintah Myanmar sengaja membiarkan kekerasan yang dipiicu konflik SARA ini.
Selama beberapa dekade sekitar 800.000 Etnis Rohingya tidak mendapat tempat di Myanmar. Meski sudah menetap sejak lama di Rakhine, etnis Rohingya tidak diakui sebagai warga Myanmar.(MEL)
zeinsee kata bijak
Kamis, 20 Juni 2013

Coretan kenangan,Bapakku Tercinta.


Saat itu saya berusia 6 (enam) tahun. Bagi kami orang daerah, Surabaya adalah perjalanan panjang melelahkan. Lamat-lamat peristiwa yang tersimpan di memori otak. Saya lupa mengapa di Surabaya saat itu ? Yang pasti, kami sekeluarga berada di THR Surabaya. “Pasar Malam” begitu bapak menerangkan padaku.
Sebagai orang kampung kami hanya jalan berputar-putar saja, takjub akan kebingarannya. Setelah puas berjalan keliling, nikmati gemerlap THR akhirnya kami pulang. Tampak Didin kelelahan tertidur digendongan Bapak. Dekat pintu keluar, rombongan mendadak berhenti. Baru nyadar kalau ada yang tertinggal. Saya yang berjalan paling belakang, tertinggal karena tidak mengikuti route perjalanan pulang rombongan. Saya nyempal. Sendirian meninggalkan Bapak, Ibu, Didin, Rika dan Nita.
Saya berhenti di kerumunan, ikut asik menonton atraksi. Tampak diatas meja terlihat sebuah Tank mainan berjalan berputar-putar. Setiap menyentuh pembatas, Tank itu memutar mencari jalan lain. Pada durasi tertentu, tank berhenti. Meriamnya berputar-putar mengeluarkan suara tembakan. Lampu berwarna diujung meriam menambah kekokohannya. Saya betul-betul takjub. Pikiran melayang, andai saja saya bisa memilikinya….!? Bagi saya orang kampung yang terbiasa main mobil dari bunga tebu, pelepah pisang atau kulit jeruk, maka tank itu sebuah kemustahilan yang sangat menakjubkan…
Akhirnya bapak menemukanku diantara gerombolan penonton. Saya tersihir kegagahan miniatur alat perang, ngotot untuk menolak ajakan pulang. Walau akhirnya bapak berhasil membujuk, saya bersedia pulang dengan berlinang airmata. Perjalanan menuju Banyuwangi kutertidur kelelahan di bus.
Setiba di Banyuwangi, saya jatuh sakit badanku panas. Diatas jidat ada saputangan. Dengan telaten bapak mengompres kepalaku dengan sapu tangan yang dibasahi air. Setiap saputangan mengering maka bapak kembali memeras, mencelupkan saputangan kedalam kobokan berisi air, lalu meletakkannya di keningku. Semalaman beliau selalu menjagaku. Asal anda tahu bahwa bila terobsesi sesuatu, maka pasti badanku demam. Saya pernah ”step” berat hanya karena kepingin dibelikan kembang api. Aku sering seperti itu di masa kecil dan itu paling dikuatirkan Bapak.
Setelah dua hari, badanku masih tetap panas. Padahal dokter Pardi sudah menginjeksiku. Saat itu pagi masih gelap, tiba-tiba terdengar seseorang membangunku dengan pelan. Seseorang berbisik di telinga kananku. ”Le…le…le..bangun le…ini Tank-nya”, kata bapak sambil tersenyum memberikan mainan.
Spontan, saya beranjak kasur menyambar Tank mainan. Senang banget hatiku, Tank yang dipamerkan di THR malam itu sudah berada dipelukanku…. Kucari tempat luas, Tank itu berputar dengan gagahnya. Meriamnya menyala-nyala, membarakan kegembiraan hatiku. Suara dan gemerlap lampunya telah mengusir demam di badanku. Seketika itu juga saya langsung sembuh. Hari itu saya seharian bermain denga gembira……….
Seorang anak pasti tak pernah peduli bagaimana orang tuanya memenuhi permintaannya. Tak sadar diotaknya hanya terpikir rasa egosentris, bahwa : keinginannya harus cepat terwujud. Tidak pernah berpikir bagaimana perjuangan orang tua dalam membantu mewujudkan keinginannya. Dan tidak pernah tahu atau peduli : apakah mereka punya uang atau tidak……?
Seperti kegembiraan saya bermain tank pagi itu. Sama sekali tak pernah terlintas pikiran : bagaimana perjuangan bapakku tercinta mendapatkannya….
Sungguh tak pernah terpikir, bahwa seharian beliau telah menempuh jarak 2 x 300 km dengan motor Honda-69 kesayangannya. Agar anaknya menjadi senang gembira …
zeinsee kata bijak
Rabu, 05 Juni 2013

Perjuangan Hidup Masyarakat Kecil dengan Kehidupan para koruptor.


Kehidupan ini makin lama semakin sulit saja bagi para kaum pinggiran.Kerja keras,keuletan,kegigihan, kesabaran,kejujuran dan asa yang ditancapkan berjuang hanya untuk memenuhi kebutuhan pokok keluarga ,rasanya seperti mimpi disiang bolong saja. Penghasilan yang mereka dapatkan tidak akan mampu mengejar kebutuhan hidup yang harganya semakin jauh berlari meninggalkan kemampuan  mereka untuk menggapainya.
Keadaan ini  tentunya sangat berbanding terbalik dengan keadaan kehidupan para Politisi,pejabat Negara ,wakil rakyat, yang dapat memenuhi segala kehidupan mereka dengan mudah dan fasilitas yang sudah disediakan oleh negara.Lihat saja para anggota Dewan yang terhormat itu yang datang untuk sidang saja sudah jam berapa dan juga tidak dihadiri oleh seluruh anggotanya masih saja mnerima segala macam fasilitas dengan gratis,tanpa perlu mengeluarkan keringat dan kerja keras.Masih Pantaskah mereka ini menjabat sebagai wakil rakyat.Bandingkan lagi dengan kehidupan para koruptor di negeri ini yang masih hidup bebas dan jumlahnya semakin hari semakin menggurita saja.Orang -orang seperti ini pantasnya bukan hanya dimiskinkan saja,melainkan harus dipaksa kerja rodi ,biar mereka merasakan betapa sulitnya mencari recehan rupiah itu, jangan seenaknya saja merampas uang rakyat yang bukan menjadi miliknya.
Contoh kehidupan nyata para kaum pinggiran dibawah ini bisa menjadi perbandingan untuk mengambil keputusan yang lebih sepadan buat para  pelaku Koruptor di negeri ini,yang tiada henti melanda negeri ini dan entah sampai kapan berhenti.
Pak Yamto (55 tahun) seorang penjual Air di Pasar Johar Semarang ini sudah 27 tahun berjualan air.Jam 03 .00 pagi di tengah orang lain lagi tidur nyenyak dia sudah berjuang dengan dagangan airnya.Dalam satu gerobak terdapat 10 kaleng air dan satu kaleng berisi 18 liter air.untuk pengambilan air satu gerobak itu Pak Yamto harus membayar Rp 2.000 untuk kas RT .Harga jual satu kaleng air ke pelanggan adalah Rp.1.000.
Dengan berjualan air ini Pak Yamto mampu menyekolahkan anaknya sampai tamat SMA.Tapi setelah Zaman Reformasi 1998,penghasilannya tak bisa dipastikan.Sekarang ini untuk menamatkan sekolah anaknya yang ke empat sampai harus mengutang.Pak Yamto adalah generasi ketiga dalam menjalankan usaha jual air ini.Dulu bapak dan kakeknya juga penjual air.
zeinsee kata bijak

Penilaian DR.Kimberly Terhadap Lingkungan Masyarakat Samosir yang Kurang Peduli

 
Dr. Kimberly yang juga Dosen STIKES Medistra ini menyatakan ketidakpedulian masyarakat samosir terhadap lingkungan terlihat dari masih banyaknya ternak yang berkeliaran dan bahkan kotoran ternak masih ada disana sini, dan itu terlihat di Pangururan sebagai Ibu Kota Samosir. Hal ini dikemukakannya setelah melakukan pengamatan beberapa minggu di Samosir,dan menyatakan keprihatinnya melihat lingkungan samosir yang merupakan Kabupaten Parawisata tapi  belum layak kebersihan lingkungannya.
"Dari pengamatan kami,Ternak dan kotorannya serta sampah masih banyak terdapat di Pangururan sebagai Ibu Kota Kabupaten Samosir yang merupakan kabupaten parawisata, padahal sampah tidak sepenuhnya bahan yang ditakuti, sampah sangat  memiliki nilai Ekonomis, tetapi hal tersebut harus dimulai dari diri  kita sendiri untuk  membersihkan lingkungannya salah satunya dengan melakukan  3 cara, yaitu Reduce atau pengurangan sampah, Reuse atau pemanfaatan kembali dan yang ketiga, Recycle atau pendaur ulangan" ujar Dr.Kimberly
Lebih lanjut, Dr.Kimberly menambahkan bahwa prilaku masyarakat Samosir, Dr.Kimberly juga menilai, sudah mengalami pergeseran mulai dari keramahannya yang sudah mengalami kemerosotan. Untuk membangun Samosir, masyarakat harus bekerja sama dengan Pemerintah untuk menuju pembangunan  yang berkelanjutan di Samosir dengan melalui 3 Aspek yaitu, Aspek Ekonomi, Aspek Ekologi dan Aspek Sosial yang harus berjalan secara bersama-sama.(HeS)
zeinsee kata bijak

Inilah Negeri yang Penuh Jeritan.

 
Negeri ini penuh dengan Jeritan. Pagi, siang, sore, bahkan sampai malam, hampir setiap sudut orang menjerit. Di ibu kota, desa-desa, di perkampungan. Di dalam rumah, di luar rumah, di pinggiran jalan. Di mall, di pasar-pasar traisional dan modern, di toko-toko. Di tempat orang kaya, di tempat ornag miskin. Semuanya menjerit.
Namun, negeri ini seakan sudah sangat tuli mendengar jeritan-jeritan itu. hingga semuanya berlalu seakan sebuah senandung yang tercipta setiap waktu.
Mereka yang miskin menjerit, ketika harga-harga kebutuhan pokok melonjak naik. Namun, mereka yang diharapkan dapat menolong, hanya melakukan tindakan-tindakan yang sedikit sekali membantu. Hingga jeritan rakyat miskin mengering dan hanya dapat tertunduk pasrah dengan keadaan.
Para petani-petani menjerit. Kala harga pupuk melonjak, dan pemerintah hanya dapat melakukan operasi dadakan untuk memeriksa apa yang menjadi penyebab kenaikan harga pupuk itu. namun solusinya? Hmm.. mungkin petani di suruh menaikkan harga hasil tanam mereka. Dan ‘mereka’ berjanji akan melakukan tindakan agar hal yang sama tidak terulang kembali.
Pemerintah pun ikut menjerit. Ketika mereka mempertanyakan kenapa semua permasalahan seolah-olah selalu datang dari mereka yang seakan tidak pernah becus memimpin rakyatnya. Tapi, mengapa mereka tidak mau menjerit kalau sebenarnya mereka telah berusaha memberikan yang terbaik kepada bangsanya, sehingga tidak patut kalau semua permasalahan itu akibat pemerintahnya.
Para pelajar pun menjerit. Ketika mereka yang berkeinginan kuat untuk bersekolah hingga mendapat gelar sarjana, tetapi masih di paksa untuk membayar sejumlah uang yang dirasa masih terlalu besar untuk beberapa golongan. Katanya, sekolah digratiskan, tetapi? Entahlah! Mungkin itu hanya sekedar penyenang hati mereka yang tidur di emperan untuk mendapat gelar sebagai seorang ‘terpelajar’. Kebijakan-kebijakan baru yang dibuat, membuat pelajar-pelajar pun ikut menjerit ketakutan setiap tahun. Katanya sich untuk menaikkan standar pendidikan negeri ini. Tapi apa iya?
Yang kaya pun tak mau ikut ketinggalan. Mereka saling menjerit, memamerkan kekayaan yang mereka miliki. Apalagi para pejabat, yang tidak berhenti menjerit dengan korupsi-korupsi yang mereka lakukan seolah tanpa dosa. Selalu berbicara undang-undang dan hukum ketika di sindir soal uang Negara yang hilang di kantong mereka. Namun, pada hasilnya, mereka yang korupsi sebegitu banyaknya, hanya di beri hukuman yang tidak sebanding, serta denda yang dirasa sangat begitu kecil. Bahkan mereka mendapat bonus fasilitas mewah didalam penjara. Mereka terus menjerit untuk berkata ‘kami akan menuntaskan kasus korupsi di Negara ini’! sedangkan yang menjerit itu, kita tidak pernah tahu, apakah ia pun terbebas dari kejahatan korupsi.
Untuk yang beruang, cukup menjerit beberapa waktu di dalam penjara. Sedangkan mereka yang miskin harus tahan menjerit bertahun-tahun di dalam penjara. Mungkin yang miskin tidak tahu cara berkelakuan baik, sehingga tidak mendapatkan remisi yang bisa memotong setengah masa kurungan mereka.
Negara ini setiap hari penuh dengan jeritan-jeritan yang menakutkan. Jeritan mahasiswa yang berdemo. Jeritan bentrokan antar warga. Jeritan mereka yang menjadi korban kejahatan. Jeritan bayi-bayi yang terbuang. Jeritan para pejabat koruptor yang bebas berkeliaran. Jeritan Pertiwi….!!!! Dan sampai kapan???? Rasanya sudah sangat frustasi untuk menjawab.
zeinsee kata bijak

Sosok Guru Bu Rahma yang Selalu Memberikan Hidupnya untuk Anak-Anak cacat.

 https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh_rvoHbXUePRVKj2DAlhUsZkuJxz-w5QNmLMIS5sHXxxu8CCS0JmMaNjEaQAV3puLBspINNv9RBFvZzXgyIutgcvt5nPCsnyxu4I3Wt_EOJpdz1h6YabXcEawWYEbRre6X88FbtS1wGJQ/s1600/bu+rahma+bersama+ank.jpg
Inilah yang menjadi awal perubahan arah hidup Bu Rahma hingga sekarang. Awal cerita yang aku tahu, Bu Rahma menemukan seorang anak cacat yang di buang oleh orang tuanya di pinggir jalan. Anak itu sangat kelaparan hingga ia memakan apa saja yang ada di hadapannya. Rasa sayang terhadap seorang anak membuat Bu Rahma tak tega melihat keadaan yang seperti itu hingga akhirnya ia membawa anak tersebut di rumahnya untuk kemudian di rawat.
“Penyebar bibit penyakit” seperti itulah yang dipikirakan oleh tetangga-tetangganya. Mereka tak suka melihat apa yang dilakukan Bu Rahma yakni membawa anak keterbelakangan mental ini ke rumahnya. Warga merasa sangat terganggu dengan kehadiran anak tersebut. Takut kalau menyebarkan bibit penyakit. Hingga akhirnya Bu Rahma di usir dari rumah tempat tinggalnya.
Inilah awal perjuangan hidup Bu Rahma untuk merawat anak-anak dengan kebutuhan khusus. Ia yang hanya bekerja sebagai seorang guru, bingung mencari tempat tinggal untuknya dan anak-anak yang akan ia rawat. Saat itu uang yang ia miliki hanya Rp 20.000.000,-. Sedangkan untuk membeli rumah yang sekarang ia tempati ia harus membayar Rp 95.000.000,-. Itulah kata Bu Rahma sewaktu aku berkunjung ke panti nya saat Bulan Ramadhan kemarin. Sambil menunggu waktu buka puasa, tanggal 5 Agustus lalu aku bersama teman-temanku berbincang-bincang dengan Bu Rahma dan bermain dengan anak-anak panti.
Aku cukup terkejut dengan pernyataan Bu Rahma. Namun ia sangat bersyukur karena sang pemiliki tanah mengijinkannya untuk membayar tanah tersebut dengan mencicilnya. Tapi jangan salah ya? itu hanya untuk tanahnya saja. Belum biaya untuk membangun rumahnya. Dengan biaya material, tukang dan lain-lain saat ini beliau masih mempunyai hutang biaya cicilan sekitar Rp. 56.000.000.
Itu semua hanyalah permulaan awal. Selain terkendala dalam biaya pembelian tanah dan pembangunan rumah, Bu Rahma juga harus berusaha mencari uang untuk membiayai kelangsungan hidup anak-anak asuhnya. Menjadi pengelola Panti asuhan cacat ganda memang memerlukan mental yang kuat dan kesabaran yang luar biasa. Itulah yang sekarang dipegang oleh Bu Rahma. Walaupun ia disisihkan dan dicap sebagai pembawa penyakit di kampungnya yang dulu, namun ia tetap berkeyakinan kuat untuk memberikan seluruh hidupnya untuk merawat anak-anak asuhnya yang sekarang.
Setelah panti asuhan Cacat Ganda ini berdiri, sekarang ada 19 anak yang menghuni panti Asuhan Al Rifdah. Ada beberapa dari mereka yang merupakan hasil dari razia Satpol PP. Kalau dari Bu Rahma nya sendiri sih dengan senang hati menerima mereka dan merawatnya. Bu Rahma memberikan pandangan hidup yang berbeda yakni setiap orang itu berhak untuk mendapatkan kasih sayang baik itu anak yang sempurna maupun tak sempurna.
Untuk merawat anak-anak ini, Bu Rahma didampingi oleh 4 orang yang di bayar Rp 2.000.000,- setiap bulannya. Bisa kalian bayangkan bagaimana usaha Bu Rahma untuk mendapatkan uang? Begitulah, ia berkerjasama dengan suaminya yang sekarang bekerja di Kalimantan. Tak sampai disini, Bu Rahma juga harus membeli obat-obatan khusus dan perlengkapan khusus bagi anak-anak asuhnya. Kenapa seperti itu? Sebab beberapa dari anak asuh Bu Rahma memiliki penyakit yang seperi epilepsi, lumpuh dan sebagianya.
zeinsee kata bijak